Go-Blog (Maaf Tidak Membahas Ttg Agama & Keyakinan)

Enaknya Menjadi Orang “Bodoh”

Posted by: belumngantuk on: Agustus 23, 2007

Kadang menjadi orang “bodoh” itu nikmat dan enjoy, berfikir menjadi simpel, tidak macem-macem. Tidak perlu Ilmu Filsafat untuk menilai sesuatu, tidak perlu argumen yang tinggi-tinggi untuk sesuatu yang jelas ada di depan mata. Kita lantas bisa menerima sesuatu dengan lapang dada (karena sudah diberkahi oleh Tuhan yang maha kuasa ilmu yang sangat terbatas, minimal Terbatas ruang dan waktu). Tanpa harus berbantah-bantahan tak berguna. Namun bila hanya dengan ilmu yang terbatas itu akan melampaui atau menyamai ilmu Tuhan, Biarkan mereka bicara saya hanya Diam.

Dan mudah-mudahan dengan status ini, peribahasa
“Gajah di pelupuk mata tak tampak, semut di seberang lautan tampak”
Tidak berlaku karena ke”bodohan” kita itu.

Lidah tak bertulang, jari tangan pun ada sepuluh, kalau dipermutasikan dan dikombinasikan jari yang sepuluh itu memiliki banyak sekali kemungkinan-kemungkinan , sehingga dengan kemungkinan ini sangat mudah untuk memutar dan membalikan kalimat untuk berdiskusi. Panjanggggggggg dan Lebarrrrrrrr, meskipun bahasan sudah jelas/tanpa keraguan.

Ternyata dengan status kita seperti ini, Kita dengan mudahnya meyakini adanya Pencipta dan semua ciptaannya, kita mudah saling menjaga toleransi antar sesama, melakukan ritual rutinitas kita secara nikmat dan teratur. Semoga bangsa Indonesia sebagian masyarakatnya menjadi “Bodoh” seperti penulis blog ini.

Hindari menjadi Seekor Keledai Atau Burung Seekor Beo

13 Tanggapan ke "Enaknya Menjadi Orang “Bodoh”"

Si Bodoh yang bijaksana datang paling akhir dijalan mistis,lebih dari semua poladasar lainya,ia mewakili kebebasan dari bentuk-bentuk, ia mempunyai penglihatan melampaui mereka, yang merupakan intisari mistisme.apapun bentuknya realitas selalu melebihi.
Si bodoh yang bijaksana melangkah meningalkan dunia dan doktrin.Karena tidak terikat pada bentuk, Si Bodoh yang bijaksana tidak begitu tertarik dengan agama dan lebih tertarik pada realitas.Ia menghargai cara-cara menunjuk yang berbeda.Cahaya matahari tampak berbeda pada tembok yang berbeda tetapi itu masih satu cahaya yang sama.

Begini, orang bodoh tidak akan takut apapun, karena mereka tidak tahu apa yang dihadapinya.

Ya, benar. Saya bodoh karena saya lulusan IPS, yang kabarnya masih dikebiri oleh orang – orang IPA itu. :?

Karena itulah “kebodohan” Tak kenal Tarian Lidah, dan Permainan Kata-Kata, Apa yang nyata, dan tidak sudah Cukup Baginya.

Orang “bodoh” bisa hidup dimana saja, Kmuliaan ada dijiwanya, Kemuliaan ada dalam Kedamaian sesama manusia, Kesenangan Tanpa Bantah-bantahan, karena “Kebodohan” telah terparti dalam dirinya,

Kebaikan akan menang, Kejahatan Akan terkuak, Walau Dibalut Kain Sutra dan Permadani Yang indah.

Selamat datang “Kebodohan” Hinggaplah dalam Hati Yang lemah dan rendah karena Keterbatasan.

Ini yang merupakan Inti dari “Hadapi Kenyataan Bahwa Manusia, Tak berilmu melainkan sedikit”

Itu sih bukan ‘bodoh’ namanya, mas. Itu namanya bad faith :? Kalau nggak salah ini teorinya Sartre, deh (CMIIW). Sistem di mana seseorang menutup mata akan argumen-argumen yang ada demi merasa nyaman. Karena takut berpikir, dan takut berubah. Keuntungannya ya itu, tidak merasakan konflik :P

Btw, fallacy itu lebih ke arah logika matematis lho, daripada filosofi, IMHO.

Hehehe :D

Bukan Gak berfikir, Justru karena dengan Berfikir itulah kita menjadi manusia. :)

Menutup mata…?? Itu malah tidak mensyukuri Nikmat namanya, masak da ada fikiran mesti di tutup-tutupi. Tetapi argumen itu perlu dilandasi juga dengan ilmu yang relevan. Dengan pandangan yang benar, bukan sebuah emosi, objektif (tidak subjektif), Dang yang lebih penting Mengukur kemampuan diri Terlebih dahulu, Sanggupkah? Mampukah? Siapkah? dan Sesuaikah dengan Keadaan yang ada Pada diri kita.

Kan Gak lucu nambahin Asbuner ( :) )di Indonesia Ini, yang notabenenya Banyak sekali bicara, but Gak tau apa Masalah yang sebenarnya.
Bukankah Asbuner mudah di Provokasi..??

Lha, mas sendiri bilang mas mau diam. Diam ‘kan berarti tidak mau berdiskusi? Tidak mau memikirkan ulang pendirian-pendirian mas?

Konsep bad faith itu bermakna membatasi pikiran, bukan membendungnya sama sekali. Berarti itu masih berlaku buat mas. Atau saya salah?

Tidak mau berdiskusi tentang Hal yang sudah jelas dan nyata, dan percuma sekali untuk dibahas, Useless, Tak begune (kata orang malaysia)
Karena argumen itu tidak ada manfaatnya sama sekali.

Tentunya tidak untuk hal lain selain Itu (lihat header blog ini)

Tentu saja, saringan tetap ada, masak harus bulet-bulet di telen, Takutnya G bisa napas ntarnya.

Dalam kontek tersbut “belumngantuk” dibatasi argumen: ilmu yang relevan. Dengan pandangan yang benar, bukan sebuah emosi, objektif (tidak subjektif), Dang yang lebih penting Mengukur kemampuan diri Terlebih dahulu, Sanggupkah? Mampukah? Siapkah? dan Sesuaikah dengan Keadaan yang ada Pada diri kita.

Sebelum lebih jauh, Fokus topik aj deh :D (jangan kemana-mana ) :P

Hal yang tidak berguna itu seperti apa? Kalau aljabar sederhana, mungkin memang tidak berguna untuk diperdebatkan. Tapi kalau mas menganggap bahasan metafisika sebagai yang ’sudah jelas, tidak ada gunanya dibicarakan’, maka sangat jelas kalau ini adalah usaha untuk mengamankan diri mas dari konflik ;)

Tentunya tidak apa. Itu sangat manusiawi. Saya pun menerapkannya, walau dengan takaran yang berbeda :P

Tidak berguna:
1. Semua orang sudah paham Islam adalah Islam dan Lainnya sama spt itu juga, secara ritual, unsur yang disembah, ancaman, janji agama Pun tidak ada yang sama. ( perlu dibahas dan dijembatani…??)

Adakah orang agama lain yang mengakui Tuhan yang saya sembah…??
(Jawabannya: tentu tidak, apalagi yang harus dijembatani/bahas..??)

tidak membahas Metafisika bukan untuk mengamankan diri, Tetapi “belumngantuk” dibatasi argumen: ilmu yang relevan. Dengan pandangan yang benar, bukan sebuah emosi, objektif (tidak subjektif), Dan yang lebih penting Mengukur kemampuan diri Terlebih dahulu, Sanggupkah? Mampukah? Siapkah? dan Sesuaikah dengan Keadaan yang ada Pada diri kita.

Dan ternyata, Kemampuan tersebut belum bisa mengalahkan pembatasan tersebut:

1. Ilmu Yang Relevan, masih sangat Kurang (objeknya Masih KURang ILMU) tentang Metafisika tersbut
2. Emosi, Ini yang lebih Parah (Objeknya, belum terkendali bila membahas ttg masalah tsb)
3. Objektif (masih ada kaitan dengan NO 3, masih bersifat Subjektif ttg hal itu)
4. Saya tak sanggup, tak siap, dan tidak sesuai Bicara Panjang dan lebar tentang Hal tersebut , Karena alasan 1,2 dan 3 di atas

A. PRINSIP DASAR MANUSIA tentang keyakinan tidak BISA DISAMAKAN. Saya pasti dan mendukung semua yang menyangkut Ajaran saya (tentunya dengan pertimbangan dalam hal terntu) dan Itu adalah karena Keyakinan saya dengan Agama Saya.
Begitu pula penganut agama lain.

Saya punya 2 Pedoman. dan itu sudah sangat cukup untuk saya sekarang dan akan datang (tanpa perlu dibantah lagi, karena pembuktian secara kasat mata hanya menunggu waktu)

Tentunya “Tidak AKan Diam” bila menyangkut Masalah Selain ” Membahas Agama Dan Keyakinan” selagi masih dalam batasan tersebut di atas.

Lha, mengubah prinsip anda tentunya tidak sama dengan menyama-nyamakan manusia. Bisa jadi setelah pandangan anda berubah, teori tersebut masih unik :?

Dan tentunya anda sadar ‘kan bahwa agama seseorang adalah agama orang di sekitarnya, atau kebalikannya? :P

OOT :
kalo semua debat dalam ranah wacana, siapa yang pegang cangkul?
* kembali ke topik *

Artikel-artikel di blog ini bagus-bagus. Coba lebih dipopulerkan lagi di Lintasberita.com akan lebih berguna buat pembaca di seluruh tanah air. Dan kami juga telah memiliki plugin untuk WordPress dengan installasi mudah. Salam!

http://www.lintasberita.com/Lokal/Enaknya_Menjadi_Orang_ldquoBodohrdquo/

tidak ada satupun manusia di dunia yang bodoh..
tuhan memberikan manusia berupa nikmat akal n pikiran yang sangat hebat kpd kita untuk dipakai menjalani hidup di dunia..

Tinggalkan Balasan